Risalah Cinta


Risalah Cinta

oleh: Cakrawala Senja

Ketika malam tiba,kupandangi bintang yang bersinar terang,terkadang sekelebat bayangmu menari-nari di benakku,entah sejak kapan rasa ini hadir di hatiku,dan sejak kapan namamu mengisi ruang hatiku,aku tidak tahu,dan ketika ada pertanyaan kenapa aku mencintaimu,aku juga tidak tahu,yang aku tahu,semenjak aku jatuh hati padamu,semenjak bayang-bayangmu mengisi ruang hatiku,kau mampu membuatku berubah,meski perubahan itu aku hanya aku yang meraskan,dan cintaku padam…u membawaku pada perbaikan-perbaikan dan perbaikan,revolusi telah terjadi padaku tanpa aku sadari,dan bagaimana semua bisa terjadi?semua terjadi karena hadirnya cinta di hati.ma’af,jika rasa ini telah hadir dihatiku,Namun,tidak usah kau risaukan tentang cintaku padamu,karena ku akan memendam rasa itu dalam-dalam,karena aku masih tahu diri,kau terlalu baik untukku,namun izinkan aku mencintaimu,meski tidak ada harapan untuk memilikimu.
Cinta,jagalah dirmu baik-baik ya,tetaplah tersenyum dalam melewati hari-harimu,ku selalu berdo’a semoga engkau selalu diberi kebahagiaan dan semoga engkau bersanding dengan orang yang mencintaimu karena allah,dan semoga kebahagiaan selalu mengiringi langkah kakimu,ku tulis risalah cinta ini dengan ketulusan hatiku.

Nganjuk,26 juli 2013
MUHYMAH AL-MUTTAHADA CS

Sepenggal Kisah


Sepenggal Kisah

oleh: Tyan Afira

kisah yang tak pernah usai
kisah yang tak pernah pudar
kisah yang selalu memikat hati
kisah yang selalu membuat resah

kisahku bukan kisah
rama shinta dan cinta
lima puluh tahun lagi kita kan tetap bersama, namun
kisahku kisah perih

andai semua bintang hanya hiasa langit yang meneduhi rumahku
dan pelangi hanya melintang ditamanku
sekalipun begitu
aku tetap tak mau

karna aku dan mimpiku
bukan bunga tidur dan musim semi
yang kan hilang begitu saja
dan usai meninggalkn duka…

Puisi Shusi Essilent


Puisi Shusi Essilent

Jiwa

Jiwaku terekrut olehmu
Raga pun lemah tak berdaya tanpamu
Angan ini selalu terdimensi akan bayangmu
Nada-nada rindu yang mengalun syahdu
Masih saja melayang dibenakku.
Aku terbuai, aku terlena akan tipu dayamu
Yang senantiasa menghujam kalbu.

Wahai angin malam…
Bawalah ragaku
Terbang, mengudara bersamamu
Bersama syahdunya alunanmu
Yang membuat hati menggebu
Dan ingin senantiasa bersamamu.

Puisi-Puisi Maftuhah Saadah


Puisi-Puisi Maftuhah Saadah

Suara Anak Negeri

Tinggal di gubuk mungil
Beratap serotong
Beralas kardus kosong
Aku, kamu, dan kita
Sebaya
Di tengah kota

Matahari bersinar cerah
Merah putih pakaian mereka
Menenteng buku sembari senyum merekah
Dihantar mobil mewah

Abu-abu lusuh kaos kita
Terkoyak, kumuh, bau pula
Menating gelas plastik bekas aqua
Bernyanyi ria di tikungan lampu merah

Kami anak jalanan, katanya
Yang setiap hari memungut nasi di tong sampah
Kami anak terlantar, katanya
Yang ditinggal dan diabaikan orang tua

Biarpun anak jalanan,
Tapi kami tetaplah anak negeri
Yang ‘kan setia pada sang bendera pusaka
Dan mengibarkannya di tiang sanubari

Walaupun anak terlantar,
Namun kami tetaplah generasi bangsa
Yang punya mimpi dan cita-cita

Tapi,
Bagaimana kita menggapainya?
Jika mimpi itu setinggi langit
Bagai pungguk merindukan bulan

Surabaya, 21 April 2013
11:20 WIB

****

Rintihan Ibu

Sendiri dalam hari
Bertemankan sepi nan sunyi
Berteduh di gubuk jerami
di seberang sungai

mata seakan buta
telinga seakan tuli
raga makin lemah
jiwa mulai gundah

mentari tak secerah pagi
langit tak seceria tangah hari
pun dengan usiaku kini
ia sudah senja temaram
sesaat lagi malam ‘kan tiba
mengubah alam jadi gelap nan suram

aku yang renta meronta,
sakit di tubuh kian menggerogoti hidup
aku yang renta merintih,
“Nak, tak inginkah kau melihatku di saat-saat senjaku ini?”

Mojokerto, 19 Desember 2012

Puisi Rini Khoirony


Puisi Rini Khoirony

*Kidung Rindu*

Gelap membuatku sedikit terkantuk
Sekejap terlintas bayang rupawan wajahmu diujung pelupuk
Menyimpul senyum
Meredam rindu

Kau tau?
Di setiap sudut malam panjang
Kutitipkan selalu salam rindu dalam angan
Menulis sajak cinta dalam sepotong diam

Setitik harap berderap merangkak pelan
Apakah bisa kupastikan penantian itu takkan panjang?
Saat kutermangu dalam gelapnya malam

Ciamis, 10.04 pm

Sepotong Pagi, Ku Rindu


Sepotong Pagi, Ku Rindu

Oleh : Winda Efanur FS

Di bawah malam yang pekat, aku terdiam memeluk sepi. Dinding kalbu bergetar meraba cahya bulan yang buta.Terdengar olehku jeritan bintang mencari pagi-dan malam tak mendengar itu. Aku hanya bisa menuliskan doa pada sehelai daun, tentang pagi yang membiru. Biarlah angin menari-lalu membawa doa untuk berkata- tapi waktu juga tak mengerti kapan

Aku masih diam

Adakah malaikat kan mengamini doaku, entahlah-angin telah berlalu.

Jika aku mengingat pagi, aku terlempar jauh untuk meraihnya

Ada beku dalam kata

Ada ragu dalam mata

Dan aku hilang di dalamnya

Sebuah doa ini- goresan kecil gemuruh mimpi. Membahasakan anomali diri pada tangis yang menangis bisu

untuk berlari hanya menyisa. Betap mimpi ku begitu jauh-

bukankah aku dekat denganNya ?

Dia menggenggam pagiku. Dia pemilik mataku.

Ku telusuri keremajaan malam, mengais doa

Untuk Sepotong pagi, ku rindu

Menari bersama mimpi,

Karena selamnya aku ingin bercerita

 

Yogyakarta, 30 April 2013

Puisi-Puisi Nas Tabanni


Puisi-Puisi Nas Tabanni

Pelabuhan Suci

 : KH. Abdul Ghofur

Bisikan syahdu di lingkungan mahameru

Bertalun merdu syair-syair ilmu dan kitab kuning dulu

Tergores tinta putih di kalbu

Disitu hamba beradu, pelabuhan suci milik seorang kiyai pewaris negeri

 

Rasa Biru, 2013

 ***

Dia dengan Secangkir Kopi

: Kiyai Ainur Rofiq (Joko Tarub)

Jeruji suci para napi beradab islami

Dia dengan secangkir kopi

Petuah tuangkan daging-daging ilmu memberahi

Di pekatnya kopi

Teguk dengan tawa dan canda biar tiada bosan meraja

Lepek tadahkan senandung ilma nafia

Bagai kitab kuning amat tereja

Santapan rohani mengiris jiwa

Dia dengan secangkir kopi

Bertabuh syair saat senja hati

Tercabik, teramat mudah melumatnya

Sampai saat ini hati menyapa

Saat sepi

Saat dia katakan jangan adukan aku dengan cinta dan benci

  

Rasa Biru, 2013

***

Anfa’uhum Linnas

Pagi …

Secangkir kopi segudang informasi tersaji

Berseling canda pasti

Senandung islami menyandingi

Terdengar di seluruh kawasan kota wali

Sore …

Lantunan nada religi mewangi diatas lampion mega merah

Mengisi wadah yang hampa dengan tausiah

Dia goreskan tinta diatas kertas putih

Walau media suraunya namun santrinya dimana-mana

Dia berjanji,

Anfa’uhum linnas ketika cerita membawanya jadi tokoh utama

  

Kepada penyiar sekaligus kiyai maloapati fm, Kang Prabu

  

Rasa Biru, 2013

***

            Nas Tabanni adalah nama pena Achmad Nasta’in yang lahir 19 April 1993 di Tuban. Seorang penikmat puisi yang belajar untuk berpuisi melalui membaca dan menulis puisi. Nimbrung di COMPETER dan Jaringan Pena Ilma Nafia (JPIN) Grobogan. Di undang dalam membaca puisi ulang tahun kota Waringin Timur-Kalteng 2012.

Karyanya tergabung dalam 21 antologi. Beberapa puisinya dimuat di Radar Sampit, Radar Bojonegoro, Banjarmasin Post, Kabar Indonesia, Kompas.com, Radar Seni, Majalah Gaul, Majalah Frasa, C-Magz, El-Bratva, Koran Cyber.  Bisa bersilaturrohmi di fb: kastanewi@yahoo.co.id.  No hp. 085787056787.

Sang Penguasa Dunia


Sang Penguasa Dunia

Indra Rusyandi
Teriris hati dengan dunia
Tangisan pilu iringi rotasinya
Tak pernah berhenti
Tak pernah berubah
Air mata yang telah tlah jatuh ke tanah ini
Tetesan darah bercampur dengan air mata
Tak pernah perduli
Tak pernah terlihat
oleh mereka

Penguasa dunia tak pernah kah kau lihat
kami tersimpuh haru, mengharap belas kasih
Penguasa dunia tak pernah kah kau coba
Rasakan yang kami rasa, tersiksa dunia
Kepedihan ini membuat tak berdaya
Saat teracuhkan oleh ego dan kepentingan
Penyiksaan ini membuat termandikan darah
masih tak perduli..

Sampai kapan kah semua kan terjadi kepedihan ini
begitu menyiksa
Sampai kapan kah semua ini terus menghampiri
tak perdulikan
oleh mereka
Harus berapa darah..
Yang kau biarkan terjatuh
Harus berapa nyawa
Yang kau korban kan tuk dunia
Sang penguasa dunia..

Nyayian Alam


Nyanyian Alam

 M Yusuf A

Di mana merdu cericit sang burung
Berdendang damaikan pagi
Di mana hijau itu
Perlahan semua menghitam

Di mana saga
Selalu ada tiap kutatap senja
Kini semua hilang

Nyanyian alam tak lagi merdu
Nyanyian alam tak lagi biru
Semua berubah jadi abu
Siapakah yang harus dipersalahkan?
Di titik pagi ku merenung